BERAGAMA HANYA SEBATAS PAKAIAN

Avatar of Jurnal Hukum Indonesia
BERAGAMA HANYA SEBATAS PAKAIAN

Jurnal Hukum Imdonesia.- Yang bilang rambut wanita itu aurat, terserah saja.

Yang bilang rambut wanita itu bukan aurat tetapi mahkota, terserah saja.
Yang bilang jilbab, cadar/burqa itu hukumnya wajib, terserah saja.
Yang bilang jilbab/hijab itu hukumnya sama sekali tidak wajib, terserah saja.
Itulah khilafiyyah ( Perbedaan pendapat ) dan apakah bisa saling menghargai, bisa saling menghormati ? Teryata dari dulu sampai sekarang sebagian tidak pernah bisa, tuduh menuduh, kafir mengkafirkan dan semua itu hanya masalah pakaian perempuan, hanya masalah penutup rambut perempuan.
Teryata sebagian beragama hanya sebatas pakaian.
Pernahkah merenung apakah esensi agama yang sebenarnya ?

Ada yang bilang jilbab, hijab/burqa, itu semua perintah Tuhan dan jika tidak dilaksanakan akan masuk neraka.
Ada yang bilang bukan seperti itu yang diinginkan Tuhan dan tidak ada masalah pahala-dosa-surga dan neraka.
Ada yang memberi pendapat dengan tidak jujur dan memakai hadis palsu.
Ada yang berpendapat dengan jujur dan dengan keilmuaan tinggi, bahwa tidak ada yang namanya pakaian muslim-muslimah dan pakaian syar’i itu.
Faktanya : Yang berpendapat tidak wajib akan diserang dengan perkataan : Liberal, sesat, murtad dan kafir.
Teryata seribu tahun lebih hanya habiskan waktu tentang masalah pakaian.
Teryata sebagian beragama hanya sebatas pakaian.
Pernahkah merenung apakah esensi agama yang sebenarnya ?

BACA JUGA :  Kadinkes Bangkalan : "Mubadzir Kalau Gedung Itu Tidak Difungsikan, Mending Disewakan Untuk Keperluan Puskesmas"

Ada negara dengan aturan agama versi mereka seperti negara Afghanistan yg dikuasai Taliban dan dibuatlah aturan yg menindas perempuan, yang sangat diskriminasi, dan perempuanpun dipenjara oleh aturan agama versi mereka, seperti dalam berpakaian seluruh tubuh harus ditutup, bola matapun tidak boleh kelihatan dan jika tidak mengikuti aturan ini maka akan dipenjara ?
Ada negara seperti negara kita Indonesia, dalam hal berpakaian perempuan negara tidak ikut campur dan itu terserah pribadi dan keyakinan perempuan itu sendiri.
Pertanyaannya : Apakah Tuhan itu sangat kejam terhadap perempuan sehingga dari ujung kaki sampai ujung rambut harus ditutup ?
Apakah Tuhan itu sangat kejam terhadap perempuan sehingga jika tidak pakai jilbab dan rambutnya kelihatan, meskipun pakaiannya sudah baik, meskipun banyak perbuatan baiknya, maka pasti masuk neraka ?
: Tuhan itu maha pengasih dan maha penyayang dan tidak mungkin seperti itu perintahnya, tidak mungkin seperti itu penilaiannya, Tuhan itu sayang sama perempuan dan malah tidak suka hal2 yang berlebihan

BACA JUGA :  Jelang Nataru, Polres Gresik Bersama TNI Gandeng Pendekar Lakukan Patroli

Ada yang bilang kami berpakaian syar’i seperti ini karena sudah hijrah, sudah mendapat hidayah, kamilah yg paling kaffah dalam beragama dan perintah Tuhan, kamilah yg paling benar dan pakaian kami inilah yang akan membawa kami kesurga.
Lalu dijawab : Yang akan masuk surga itu hanya pakaiannya saja, sedangkan orangnya nanti dulu.
Lalu marah, terjadilah pertengkaran, dituduhlah penista agama dan dikafirkanlah.
Hanya habiskan waktu bertengkar soal pakaian dan aurat.
Teryata beragama hanya sebatas pakaian dan sama sekali tidak pernah tahu akan esensi agama sebenarnya.

” Esensi islam tidak terletak pada pakaian yang dikenakan. Melainkan pada akhlak yang dilaksanakan. ” ( Gus Dur ).

BACA JUGA :  Presiden Terima Tim Seleksi Calon Anggota KPU dan Bawaslu 2022-2027

Beragama hanya sebatas pakaian,
Esensi ( Hakikat ) agama itu tidak terletak pada pakaian yang dikenakan, melainkan pada akhlak yang dilaksanakan.
Tuhan tidak menilai manusia sekedar dari pakaian, tetapi Tuhan menilai itu dari perbuatan.
Tuhan tidak menilai manusia sekedar dari pakaian, tetapi yang dinilai itu hati, karena hati tidak bisa berbohong, sedangkan pakaian bisa menipu ( tidak digeneralisasi ).
Tuhan tidak menilai manusia dari sekedar pakaian, pakaian tidak mencerminkan keimanan dan ketakwaan, tetapi yg dinilai itu perbuatan, dari akhlak yg dilaksanakan.

Beragama hanya sebatas pakaian.
Sementara akhlak tidak dilaksanakan, hati tidak dibenahi dan harusnya hati itulah yg harus diberi pakaian akhlak yg baik, supaya terhindar dari kedengkian, kebencian dan kemaksiatan.

Beragama hanya sebatas pakaian,
Esensi agama tidak terletak pada pakaian yang dikenakan, melainkan pada akhlak yang dilaksanakan dan puncak dari esensi agama itu adalah kemanusiaan. Sudahkah dilaksanakan ?

Tinggalkan Balasan