DARI SEGITIGA EMAS KE TEMPAT TUJUAN

DARI SEGITIGA EMAS KE TEMPAT TUJUAN

Jurnal Hukum Indonesia.- SEPINTAS, penggunaan narkotika maupun penyalahgunaan obat-obatan terjadi secara merata di semua lapisan masyarakat dari kalangan atas hingga anak jalanan (anjal) terutama di kalangan remaja, pelajar, dan mahasiswa. Dari 10 orang pelajar dan mahasiswa, mungkin sebanyak delapan orang adalah pemakai atau minimal pernah menggunakan berbagai jenis obat-obatan atau narkotika. Angka ini hanya dugaan secara random, karena memang tidak ada data-data statistik resmi. Berapa banyak uang yang beredar ? Sukar untuk mendapatkan angka pasti. Yang bisa hanya perkiraan. Perkiraan ini bisa dimulai dari data jumlah jenis narkotika dan obat-obatan terlarang, sebagai ilustrasi pada tahun 2000. Data yang didapat menyebutkan sebanyak 42.225 butir ecstasy yang disita. Apabila kita dapat mengkalkulasi misalnya 1 butir ecstasy seharga Rp. 80.000 maka total uang dari penjualan ecstasy ini sekitar Rp. 3.378 milyar.

Sedangkan barang bukti narkoba yang disita pada 2021 adalah 3,31 ton metafetamin (sabu), 115,1 ton ganja, 50,5 hektare lahan ganja dan 191.575 butir ekstasi,” ungkap Kepala BNN RI, Komisaris Jenderal Polisi Petrus Reinhard Golose dalam konferensi pers tentang capaian kinerja BNN RI di tahun 2021. Sementara itu Kepala BNN Jatim Brigjen Pol Idris Kadir mengatakan bahwa : “Indonesia, khususnya Jawa Timur ini menjadi surganya jaringan narkoba internasional, walaupun BNN sudah banyak menyita narkoba yang masuk dari luar negeri, selama masih ada permintaan maka tetap ada pengiriman”. Ia menjelaskan juga bahwa didalam bisnis peredaran gelap narkoba, tidak ada bandar yang rugi. “Semakin banyak barang yang disita BNN atau polisi, maka stok semakin sedikit. Namun dengan permintaan yang masih banyak, para bandar menjual dengan harga jauh lebih tinggi. Sabu per gram bisa naik hingga Rp 2 juta. Ini hal krusial yang harus disikapi,” tegasnya.
Penyalahgunaan narkoba di Indonesia, tidak hanya menyebar di perkotaan tapi juga sudah merambah ke desa, awalnya hanya ditawari dengan alasan obat kuat, lalu saat kecanduan maka para petani pun membeli. Bahkan dari study yang dilakukan LIPI, masyarakat perdesaan ada yang menjadi bandar. Pada saat berada didalam masa pandemi COVID-19 ini, ada kenaikan prevalensi penyalahgunaan narkoba sebesar 0,15 persen berdasarkan hasil survei penyalahgunaan narkoba 2021 yang dilakukan oleh BNN, Badan Pusat Statistik serta Badan Riset dan Inovasi Nasional. Pada kategori setahun pakai yang sebelumnya 1,80% atau 3.419.188 pada tahun 2019, kini naik menjadi 1,95% atau 3.662.646 pada tahun 2021 dan pada kategori pernah pakai meningkat dari 2,40% atau 4.534.744 menjadi 2,57% atau 4.827.616, kenaikan penyalahgunaan narkoba itu turut dipengaruhi banyaknya pasokan narkoba yang masuk ke Indonesia yang 90% diantaranya melalui jalur laut.

BACA JUGA :  Irwasum Polri Cek Prokes serta Pengamanan di Tempat Ibadah dan Stasiun

Melalui Laut/Sungai.
Semua jenis obat-obatan dan narkotika ini masuk ke Indonesia dari luar negeri dengan berbagai cara. Ada yang dibawa langsung dengan cara disembunyikan dalam badan (body pack), atau disembunyikan dalam lapisan rahasia di dalam koper, radio, dan sejenisnya. Umumnya, obat-abatan dan narkotika datang dari jalur distribusi yang dikenal dengan sebutan segitiga emas (Golden Triangle) yang terletak antara Thailand, Myanmar, Laos dan Cina. Dari jalur segitiga emas ini antara lain dipasok berbagai jenis heroin dan opium. Ada juga dari kawasan Eropa seperti Belanda yang dikenal sebagai tempat penghasil ecstasy yang terbaik.
Sedangkan untuk jenis shabu, akhir-akhir ini diketahui berasal dari salah satu Propinsi yang berbatasan dengan Hongkong. Dari kawasan segitiga emas, barang-barang ini dibawa melalui Sungai Panjang, Sungai Kuning dan Sungai Mutiara. Hulu sungai di daerah Cina ini memang berada di kawasan Myanmar. “Semua tujuan akhir adalah Indonesia”, ada yang masuk dari Jepang dan tertangkap di Cengkareng, semua pesawat dari Bangkok, Malaysia, Myanmar dan Vietnam sudah diawasi semuanya, semua dibawa melalui kurir yang umumnya orang Cina asal Medan (Cimed), sehingga sudah dapat dipastikan mereka dapat berbahasa Kanton untuk berkomunikasi”, jelas beberapa sumber tersebut.

Para Bandar
Di salah satu kota besar di Indonesia, barang-barang narkotika itu beredar menurut jenjang untuk menutupi kemungkinan tercium oleh aparat Kepolisian. Peredaran ini dilakukan melalui bandar-bandar (biasa disebut BD) yang terbagi atas Bandar 1 (BD 1), Bandar 2 (BD 2), Bandar 3 (BD 3) dan Bandar 4 (BD 4). Masing-masing Bandar mempunyai wilayah operasi penjualan sendiri yaitu :
Bandar 1, mereka mengatur pemasukan barang-barang narkotika dan obat-obatan terlarang dari luar negeri untuk masuk ke Indonesia, dengan wilayah operasi berada di hotel-hotel;
Bandar 2, yang ada di bawahnya, beroperasi di rumah-rumah dan apartemen atau ada kalanya juga di hotel-hotel yang berbeda dengan BD 1;
Bandar 3, beroperasi melalui perjanjian dan bisa ditelephone. Semua transaksi pada tingkat bandar ini dilakukan apabila masing-masing sudah saling mengenal;dan Bandar 4, yang terakhir ini bisa juga disebut dengan pengecer. Dan umumnya adalah orang-orang yang mempunyai pekerjaan tetap dan hanya menjual partay kecil atau paket hemat (Pahe).

BACA JUGA :  Siswa SPN Polda Banten Laksanakan Manajemen Kebersihan

Belum Mafia
Peredaran narkotika dan obat-obatan di Indonesia mempunyai sebuah struktur yang rapi dan mempunyai jaringan yang dalam. Konon, jaringan ini dikuasai oleh sebagian besar orang-orang keturunan Tionghoa asal Medan. Bahkan, jaringan ini bisa masuk dan beredar ke dalam penjara-penjara. Kerapian ini ternyata hanya tampak dari luar saja, karena mereka masih belum membentuk diri sebagai sebuah organisasi kejahatan ala Mafia di AS atau Triad di Hongkong.

Pendekatan lain.
Dari beberapa informasi yang dapat dikumpulkan, memang patut diduga adanya mantan aparat keamanan yang terlibat secara tidak langsung dalam peredaran narkotika itu. Akibatnya, memang agak sulit untuk mencegah terjadinya pengedaran narkotika maupun penyalahgunaan obat-obatan. Sebagai ilustrasi penulis sampaikan, walaupun semakin banyak pengedar ditangkap, bukan berarti jumlah obat obatan dan narkotika yang beredar di masyarakat juga semakin besar, ini dapat kita lihat pada keseriusan aparat Kepolisian dan BNN di Indonesia didalam memberantas jaringan peredaran narkotika dan obat obatan.
Mungkin perlu dilakukan pendekatan lain untuk mencegah semakin meluasnya penggunaan narkotika. Pendekatan formalistik hukum dan kecaman sosial serta kecaman keagamaan tidak mampu lagi mencegah penggunaan dan peredaran narkotika. Sudah harus ada pembedaan yang jelas dan tegas antara pengguna dan pengedar obat-obatan maupun narkotika. Bagi pengguna, meminum ecstasy, penggunaan sabu sampai kokain sekalipun adalah sebuah pilihan, sama halnya dengan orang memilih minum Teh Botol atau Coca Cola. Karena itu, hukuman yang ditimpakan kepada pengguna tidak bisa disamakan dengan pengedar narkotika.

Hukuman bagi pengedar seharusnya lebih berat, karena barang-barang yang dijajakan menimbulkan dampak negatif bagi penggunanya. Pengedar secara sadar mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain yang mengalami kecanduan akibat mengkonsumsi barang-barang yang dijual oleh pengedar.

BACA JUGA :  Ada 23 Gerbang Pintu Tol Rawan Kepadatan Saat Mudik Lebaran 2022, Cek di Mana Saja

Cara masuk :
* Disembunyikan di badan (body pack)
* Disembunyikan dalam lapisan tersembunyi didalam koper, radio, patung dsb.

Wilayah Operasi Bandar :
* Bandar 1 : Hotel-hotel berbintang dan perumahan-perumahan mewah;
* Bandar 2 : Rumah dan apartemen yang bukan wilayah bandar 1;
* Bandar 3 : Melalui perjanjian atau telephone;dan
* Bandar 4 : Pengecer

Maraknya peredaran narkoba di Indonesia dimulai sejak diatas tahun 1990, dimana sebelumnya Indonesia hanya masih menjadi sasaran sebagai negara transit, dan saat itu masyarakat belum tergiur dengan keberadaan barang tersebut, dan baru pada kisaran tahun 90-an muncul yang namanya ecstasy, sehingga keberadaan barang tersebut sangat mempengaruhi didalam hubungan komunikasi antar sesama masyarakat. Ditingkat dunia ada 950 jenis narkoba baru yang telah ada sedangkan di Indonesia sudah masuk 79 jenis narkoba dan beberapa jenis lainnya yang belum ada regulasinya. Terkait modus operandi yang saat ini dilakukan, maka masih seputar menggunakan jasa paket. Dengan jaringan Internasional Malaysia untuk sabu. Terlebih di tengah pandemi ini, maka jasa pengiriman (jasa paket) menjadi alternatif pintu masuk guna mengatasi sarana transportasi yang sulit.

Saran yang perlu disampaikan :
Pelaksanaan penegakan hukum didalam penyalahgunaan Narkoba harus dilakukan secara tegas, konsisten serta sungguh-sungguh sesuai dengan ketentuan perundang-undangan dan peraturan peraturan yang berlaku, perlu mengusulkan kepada pemerintah dan DPR agar dalam undang undang juga ditetapkan sanksi hukuman minimum bagi para pelaku khususnya pengedar dan produsen, disamping sanksi maksimum yang ada serta bagi penyalahguna narkoba diberikan kewajiban untuk menjalani terapi dan rehabilitasi yang disediakan oleh pemerintah. Pengawasan dan pengendalian narkoba dan precursor legal perlu diperketat serta ditingkatkan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan dan penyelewengan kepasaran gelap.

2. Peran sentral generasi muda didalam upaya menanggulangi penyalahgunaan narkoba merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap kondisi bangsa saat ini di tengah maraknya peredaran narkoba. Dalam penanggulangan narkoba tersebut, generasi muda harus memiliki kemampuan manajerial organisasi kelompok sebaya dan mempunyai pengetahuan dasar seputar narkoba. Oleh karena itu, langkah awal adalah pendidikan penanggulangan penyalahgunaan narkoba pada generasi muda secara dini, terus-menerus dan simultan.

Tinggalkan Balasan