Berita  

Dibalik Nama Stasiun Solo Balapan

Dibalik Nama Stasiun Solo Balapan

Solo — Jurnal Hukum Indonesia.- Kalian pasti sudah tidak asing jika mendengar Stasiun Solo Balapan. Melalui tembang Jawa yang diciptakan oleh Maestro tembang Jawa Alm. Didi Kempot yang berjudul Stasiun Balapan. Stasiun Solo Balapan menjadi dikenal masyarakat luas dan hampir seluruh Indonesia tau akan lagu ini. Tapi apakah kalian tahu sejarah dan alasan mengapa Stasiun ini dinamakan Stasiun Solo Balapan?

Stasiun Solo Balapan merupakan Stasiun utama di Kota Solo dan juga menjadi stasiun legendaris kedua setelah Stasiun Samarang yang kini sudah digantikan oleh Stasiun Semarang Tawang. Stasiun yang berdiri tahun 1873 ini dibangun oleh kolonial dan menjadi stasiun tertua di Solo. Stasiun Balapan berlokasi di Jalan Wolter Monginsidi Nomor 112, Kestalan, Banjarsari. Stasiun Solo Balapan juga menjadi bagian sejarah kereta api di Indonesia.

BACA JUGA :  Satgas Penanganan Covid-19 Sebutkan Terdapat 5 Provinsi Tujuan Mudik Terbanyak Lebaran 2022

Pada masa itu, Solo sedang digalakkan menjadi pola perkotaan. Keinginan tersebut lahir dari pemerintah Kolonial Belanda. Dengan perubahan pola ini, akhirnya dibangunlah sarana dan prasarana umum yang salah satunya adalah pembangunan sarana transportasi kereta api. Pemerintah Kolonial Belanda sudah menggagas jalur rel kereta api dari Semarang (sebagai Ibu Kota Provinsi) menuju Solo. Dengan alasan itulah, yang melatarbelakangi Solo harus punya stasiun kereta api.

Berdasarkan beberapa informasi, lahan yang sekarang digunakan menjadi Stasiun Solo Balapan, dahulunya merupakan Alun-Alun Utara milik Keraton Mangkunegaran. Di dalam alun-alun terdapat pacuan kuda Balapan, dibawah kekuasaan Mangkunegara IV. Pada masa itu pula, lokasi lapangan pacuan kuda balapan dianggap paling pas untuk menjadi sebuah stasiun, karena jalur rel bisa langsung mengarah ke Semarang. Akhirnya, pacuan kuda itu diubah menjadi sebuah stasiun, dan nama balapan tetap dipertahankan.

BACA JUGA :  Danrem 174/ATW Dampingi Pangdam XVII/Cenderawasih Bersama Forkopimda Sambut Kedatangan Kasad Beserta Rombongan Di Bandara Mopah Merauke

Sebagai stasiun terbesar di Kota Solo, fasilitas yang disediakan stasiun ini sangat menunjang bagi penumpang yang akan berangkat dan tiba di stasiun ini. Ditambah lagi fasilitas untuk beribadah, yaitu masjid yang mampu menampung sekitar 600 jemaah. Eksistensi Stasiun Solo Balapan juga masih sangat terlihat hingga saat ini. Dari beberapa stasiun yang ada di Kota Solo, masyarakat masih menjadikan Stasiun Solo Balapan sebagai pusat pemberangkatan dan kedatangan.

Tinggalkan Balasan