Berita  

Edhi Susanto Selama Persidangan Berbelit Belit Menjawab Surat Kuasa Yang Diduga Dipalsukan

Edhi Susanto Selama Persidangan Berbelit Belit Menjawab Surat Kuasa Yang Diduga Dipalsukan

Surabaya – Jurnal Hukum Indonesia.- Sidang perkara dugaan tindak pidana pemalsuan surat kuasa oleh terdakwa Notaris Edhi Susanto dan Istrinya dalam  berkas terpisah kembali digelar diruang Garuda ll Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, dengan agenda mendengar keterangan 3 orang saksi pelapor (Korban).

Saksi Hardi menerangkan bahwa tetangganya bernama Triono Satrio Dharmawan mau membeli lahan Hardi, dan Triono Satrio Dharmawan disuruh Notaris Edhi Susanto minta sertipikat asli ke saksi Hardi untuk keperluan ceking di BPN pada tahun 2017, lalu saksi hardi menyerahkan 3 sertipikat asli ke Notaris Edhi Susanto.diantaranya Jalan Kenjeran SHM Nomor 78 /K dengan luas tanah 720, Jalan Rangkah 7 No 99 SHM Nomor 328/K dengan luas tanah 931, Jalan Rangkah 7 No 95,97 SHM Nomor 721 luas tanah 602.ketiga SHM tersebut telah disepakati dengan pembayaran lunas untuk AJB sebesar Rp 16 milliar setelah keperluan ceking di BPN selesai.

“Sewaktu 3 sertipikat asli saya serahkan ke Notaris Edhi Susanto untuk keperluan cek ke BPN, saya diberi tanda terima tertanggal 14 November 2017 dari Edhi Susanto,”kata saksi.

BACA JUGA :  TERORISME ADALAH

Saksi Hardi juga menerangkan terkait rilen,”Dari awal sudah dibicarakan sewaktu SHM belum dirubah, setelah nanti ada pembayaran lunas baru SHM dirubah, ternyata SHM sudah dirubah lebih dulu oleh Notaris dengan membuat surat kuasa palsu,”kata saksi,

Mengenai pembayaran hanya DP sebesar Rp 500 juta yang saksi terima. ditunggu selama 4 tahun tidak ada pelunasan, sàksi Hardi minta pada Notaris agar 3 SHM tersebut dikembalikan kalau tidak jadi dibeli,

Tapi kenyataannya 3 SHM tersebut tidak dikembalikan bahkan ada salah satu SHM yang dirubah luas tanahnya oleh Notaris Edhi Susanto dengan membuat surat kuasa palsu yang tertera tanda tangan Itawati Sidharta pemilik SHM, seakan akan perubahan SHM tersebut suruhan Itawati Sidharta. sedangkan SHM yang dirubah Nomor 721 awal luas tanahnya 602 M berubah menjadi 591.

Saksi Itawati Sidharta menerangkan terkait surat kuasa yang ada tanda tangannya untuk keperluan mengurus perubahan SHM Nomor 721. saksi Itawati menjawab,”Saya tidak pernah membuat surat kuasa dan saya tidak pernah tanda tangan kuasa karena saya tidak pernah diajak ke Notaris dengan suami saya,”kata saksi.

BACA JUGA :  Polres Probolinggo Gelorakan Semangat Merah Putih Sambut Hari Kemerdekaan RI

Saksi Kho Untung Prayitno menerangkan terkait lahan yang dijual pada Triono, saksi Kho Untung mengetahui semua. bahkan ada perrubahan didalam sertipikat juga tau karena selama ini saksi selalu bersama sama dengan Hardi ke  Notaris.

Untuk diketahui, pada pertengahan tahun 2017 Hadi kartoyo (Korban) mau menjual 3 bidang tanah dan bangunannya yang terletak di jalan Rangkah senilai Rp 16 milliar, dan tanah tersebut masih tertulis atas nama istrinya Itawati Sidharta kepada Triono Satria Dharmawan,

Lebih lanjut, Hardi menyerahkan 3 SHM itu pada terdakwa Edhi Susanto untuk cheking sertifikat di kantor BPN surabaya ll. sedangkan Triono selaku pembeli menyerahkan Cek senilai Rp 500 juta kepada terdakwa Edhi Susanto agar diserahkan kepada Hardi sebagai uang tanda jadi atau DP atas pembelian tanah dam bangunan.

BACA JUGA :  Arumi Bachsin: Berwirausaha Dapat Jadi Solusi Cegah Pernikahan Dini

Saat pengurusan ceking tidak diselesaikan, terdakwa Edhi Susanto membuat surat pernyataan yang isinya apabila dalam waktu 2 bulan ternyata belum terjadi transaksi jual beli antara Hardi dan Triono, maka uang DP dianggap hangus dan sertifikat asli dikembalikan.

Setelah ditunggu-tunggu juga tidak ada kelanjutannya proses jual beli tersebut, selanjutnya Hardi meminta sertifikatnya kembali, tetapi Edhi Susanto tidak menyerahkan sertifikat tersebut tanpa ada alasan yang jelas.

Akibat perbuatan kedua terdakwa pemilik sertifikat Itawati Sidharta diduga jadi korban sehingga mengalami kerugian menyusutnya luas tanah yang tercatat didalam sertifikat miliknya.

“Perbuatan kedua terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 263 ayat (2) KUHP. sedangkan terdakwa Edhi Susanto diancam pidana dalam Pasal 263 ayat (1) KUHP,”ujarnya.

Untuk sidang selanjutnya dilanjutkan pada hari Kemis depan dengan agenda pemeriksaan terdakwa oleh jaksa penuntut umum (JPU)Rahmad Hari Basuki dari Kejati Jatim.

Tinggalkan Balasan