Berita  

Inggris Krisis, WNI Penerima Beasiswa Minta Dana Tambahan ke LPDP

Inggris Krisis, WNI Penerima Beasiswa Minta Dana Tambahan ke LPDP

Malang – Jurnal Hukum Indonesia.- Warga negara Indonesia (WNI) penerima beasiswa di Inggris meminta dana tambahan ke Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk menghadapi krisis parah di negara itu. “Untuk mengajukan dana tambahan sudah dan sedang dilakukan, dan masih dipertimbangkan pihak LPDP,” ujar Adit (bukan nama sebenarnya), kepada CNNIndonesia.com, Rabu (28/09/2022).

Menurut Adit, para WNI penerima beasiswa di Inggris sudah pernah mengajukan dana tambahan ke LPDP saat krisis mulai melanda negara itu pada awal tahun ini. Krisis mulai terasa tak lama setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari lalu. Para WNI di berbagai kota di Inggris kemudian meminta tambahan dana pada Maret.

BACA JUGA :  Danlanud Manuhua Mengantar Keberangkatan Pangkoopsud III, Ke Ternate

WNI di beberapa kota, lanjut dia, berhasil mendapatkan tambahan dana dari LPDP. “Saat ini sedang persiapan pengajuan lagi karena ada beberapa kota yang dirasa masih kurang,” ujar Adit.

CNNIndonesia.com sudah menghubungi Direktur Utama LPDP, Andin Hadiyanto, untuk meminta konfirmasi dan tanggapan terkait pengajuan dana tambahan itu. Namun, dia belum merespons.

Sementara menunggu konfirmasi, Adit dan para WNI penerima LPDP di Inggris masih harus berhadapan dengan kenaikan harga barang. “Kenaikan terasa di harga-harga kebutuhan pokok, berkisar antara £0,3 sampai £1,5 untuk sayur, buah, dan lain-lain. Minyak goreng sempat langka dan mahal Bulan Mei-Juni,” tutur Adit.

BACA JUGA :  Wapres Minta Keluarga Indonesia Tingkatkan Kesadaran dan Kewaspadaan Hadapi Bencana

Selain kebutuhan pokok, harga sewa rumah juga melonjak. Kenaikan sewa rumah sekitar £50-300 atau sekitar Rp816 hingga Rp4,9 juta.

Namun, Aidit tak merasakan dampak kenaikan sewa rumah itu karena ia sudah meneken kesepakatan harga pada tahun lalu. “Jadi enggak akan dinaikkan harga sewa selama masih dalam masa kontrak,” ucap dia.

Adit menyiasati krisis itu dengan memanfaatkan diskon di toko grosir. Ia pun berusaha masak ketimbang membeli makanan siap saji.

Jika pun ingin makan di restoran, ia akan datang di waktu-waktu jelang tempat makan itu tutup. Dengan demikian, ia bisa membeli dengan setengah harga. “Contoh ke Itsu. Harga Sushi normalnya £8 (sekitar Rp48 ribu), tetapi kalau datang menjelang mereka tutup harga jadi £4 (sekitar Rp24 ribu),” ucap Adit.

BACA JUGA :  PEMKOT SURABAYA MULAI TERAPKAN KEBIJAKAN PR KARAKTER BAGI PELAJAR SD-SMP SEDERAJAT

Inggris tengah dihantam krisis karena lonjakan harga energi imbas perang Rusia-Ukraina, keputusan mereka keluar dari Uni Eropa, dan inflasi usai pandemi Covid-19.

Krisis ini menyebabkan warga dijerat biaya hidup yang mahal dan kenaikan tagihan listrik serta energi lain. Akibatnya, warga Inggris sengsara, sampai-sampai ada yang makan karet, sementara banyak perempuan memilih menjadi pekerja seks komersial.

Tinggalkan Balasan