JER BASUKI MAWA BEA

JER BASUKI MAWA BEA

JER BASUKI MAWA BEA

Jurnal Hukum Indonesia.- Jer Basuki Mawa Bea, Pepatah Jawa yang kerap kali kita dengar , namun memunculkan berbagai persepsi dalam setiap pandangan orang. Bea ada yg mengartikan dengan sebuah perjuangan , namun ada pula yang mengartikan sebagai sebuah biaya atau uang. Dan penulis lebih cenderung mengartikan bea sebagai ragat atau uang.

Karena sepengetahuan penulis , kata kata pepatah Jawa hampir tidak pernah jauh dari pengertian arti kata yang sebenarnya. Jika itu diartikan sebagai sebuah perjuangan , tentu pepatah itu tidak akan menggunakan kata bea. Jika toh kata bea diartikan sebagai sebuah perjuangan , di dunia ini tidak ada perjuangan yang tidak membutuhkan biaya , kendati dalam jumlah yang sangat minim.

BACA JUGA :  Harapan Besar Pada Institusi Polri

Terlepas dari perbedaan sudut pandang pengertian kata bea , penulis akan mengaitkan dengan biaya yang harus
dikeluarkan untuk menimba ilmu.

Mengapa ..? Karena pengalaman penulis sebagai seorang pengajar lebih dari 10 tahun , ada kecenderungan sebagian masyarakat tidak menghargai jerih payah yang dilakukan oleh seorang tenaga pengajar. Mereka dengan kemampuan financial diatas rata rata , berusaha mendapatkan fasilitas pendidikan dengan biaya 0 rupiah.

Dan bagaimana hasilnya ..? Apakah putra putri mereka mampu memperoleh prestasi yang tinggi ..? Jawabannya adalah ‘tidak’ ..! Bahkan penulis memiliki keyakinan , raport atau surat keterangan laporan pendidikan yang diterima mereka akan dipenuhi oleh nilai nilai palsu penuh mark up.

Situasi menjadi lebih memprihatinkan lagi , disaat ada sebagian oknum yang memiliki kewenangan sebagai ekskutor penggajian tenaga pengajar , masih berupaya menyunat gaji tenaga pengajar di lingkungannya seolah tak lagi memiliki hati nurani dan sangat tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang disebut sebagai tenaga pendidik.

BACA JUGA :  Gerebek Gudang Penampungan, TNI AL Tangkap 75 Orang Calon PMI Ilegal Di Tanjung Balai Asahan

Bagaimana tidak, perhatikan keluhan seorang tenaga pengajar yang penuh dedikasi yang mampu mengajar tidak sepenuhnya texbook atau letterlijk
namun mampu memberikan wawasan lebih luas untuk anak didiknya , di sebuah sekolah swasta di daerah , dengan gaji Rp.240.000/bulan untuk 24 kali tatap muka atau 36 jam pelajaran selama satu bulan , tak urung harus menerima penyunatan gaji , dan gaji yang diterima hanya sebesar Rp.150.000/bulan. Bisa dibayangkan , bagaimana seseorang bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dengan uang Rp.150.000/bulan ..? Pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan penulis ..?
Hargailah kebaikan seseorang dengan sepantasnya, karena sebuah ‘pengajaran’ memang tidak pernah terlihat prosesnya , namun hasilnya akan dirasakan oleh banyak pihak.

BACA JUGA :  Agenda Tahunan Di Bulan Suci Ramadhan, Komunitas Joyo Semoyo Community (JSCO) Bagi-Bagi Takjil

Dan setiap pepatah Jawa kuno , senantiasa mendalam maknanya , lahir dari pemikiran pemikiran orisinil tanpa tendensi , berarti ada hikmah tersembunyi di dalam setiap kata. Dan penulis mampu membuktikan , bahwa dengan segala keterbatasan , tetap
memperjuangkan pembiayaan untuk putra putri bukan dengan nol rupiah , namun dengan berapapun kemampuan penulis , hasilnya adalah prestasi prestasi yang sangat membanggakan.

$$ Buah Pena Dari Pojok Warna Warni “Via Collection” Bondowoso $$

Tinggalkan Balasan