Berita  

KEKERASAN FISIK PADA ANAK USIA DINI

KEKERASAN FISIK PADA ANAK USIA DINI

Jurnal Hukum Indonesia.- Kekerasan pada anak masih banyak terjadi ditengah masyarakat, mulai dari kekerasan, pembunuhan, penganiayaan dan bentuk tindakan kriminal lainya yang berpengaruh negatif bagi kejiwaan anak. Hal ini terjadi karena banyak orang tua menganggap kekerasan pada anak adalah hal yang wajar.

Mereka beranggapan kekerasan adalah bagian dari mendisiplinan anak. Mereka lupa bahwa orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam mengupayakan kesejahteraan, perlindungan peningkatan, kelangsungan hidup dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Kekerasan pada anak usia dini merupakan tindakan yang dapat merusak perkembangan anak, baik secara fisik, psikis, maupun seksual. yang dapat memperngaruhi perkembangan kehidupan masa depan anak. Kekerasan fisik terhadap anak sangat bertentangan dengan undangundang yang mengatur perlindungan anak.

BACA JUGA :  Pacitan Tumandang, Gubernur Khofifah -- Operasi Pasar Murah Minyak Goreng Dan Salurkan Zakat Produktif Untuk Usaha Ultra Mikro

Undang-undang No. 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas undangundang nomor 23 tahun 2003 yang di dalamnya terdapat pasal 69 tentang perlindungan anak, yang mengatakan bahwa perlindungan bagi anak korban kekerasan fisik dan psikis sebagaimana dimaksud pasal 59 ayat (2) huruf i. Menurut UU KDRT No. 23 Tahun 2004, bentuk kekerasan fisik terhadap anak antara lain: dipukul, ditendang, ditampar, dilukai, dijambak, dijewer, dicubit, dibenturkan, dijemur di bawah matahari, dan sebagainya.

Bentuk kekerasan fisik tersebut mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, luka, lecet, memar. Faktor pemicu terjadinya tindakan kekerasan adalah faktor ekonomi, akibat dari kemiskinan menimbulkan setress terhadap ibu yang kemudian dapat dilampiaskan ke anak. Desakan ekonomi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang mengakibatkan orangtua tidak dapat mengatasi masalah ekonomi, menyebabkan orangtua mudah meluapkan emosi kepada anak.

BACA JUGA :  Gubernur Khofifah Turut Duka Cita Mendalam Atas Korban Kecelakaan Bus Pariwisata di Jalan Tol Mojokerto - Surabaya KM 712

Bahwa penyebab atau risiko terjadinya kekerasan terhadap anak terdapat tiga faktor yaitu:
a. Faktor orangtua/keluarga Salah satu faktor utama yang menyebabkan kekerasan adalah keluarga, yang memegang peranan penting terjadinya kekerasan dan penelantaraan anak. Faktor yang merugikan anak diantaranya: hubungan asimetris, gangguan mental, orangtua yang dibesarkan dengan penganiayaan, orangtua yang menikah belum mencapai kematangan fisik, emosi, maupun, sosial, dan terutama mereka yang mempunyai anak sebelum berusia 20 tahun.

b. Faktor lingkungan sosial/komunitas Faktor lingkungan sosial juga dapat menyebabkan terjadinya kekerasan pada anak: kemiskinan yang terjadi di dalam masyarakat menyebabkan tindakan kriminalitas, status wanita yang dipandang rendah, adanya pandangan masyarakat bahwa anak milik orangtua sendiri, nilai masyarakat yang individualis.

BACA JUGA :  Periksa Kawasan PT Krakatau Daya Listrik, Ditpamobvit Polda Banten Pastikan Tidak Ada Gangguan Kamtibmas

c. Faktor anak itu sendiri Faktor kekerasan terjadi, bisa karena dari anak itu sendiri
penyebabnya yaitu anak yang mengalami gangguan perkembangan serta perilaku yang menyimpang pada diri anak.

Nara Sumber : LEMBAGA SANDYA KARA PRAWARA (SKP LAW FIRM)
Youtube : SKP LAW FIRM

Tinggalkan Balasan