Berita  

Ketika mu(ku) mencintai ku(mu) Sesion 3

Avatar of Jurnal Hukum Indonesia
Ketika mu(ku) mencintai ku(mu) Sesion 3

Opini — Jurnal Hukum Indonesia.–

Diriku menatap dirimu , ketika tepukan dan elusan di punggung dirimu mampu sadarkan atas khilafmu. Diriku tersenyum seakan memastikan dirimu bahwa belum terjadi apapun juga. Tak ada salah tentang cinta , tak ada salah tentang kerinduan. Namun yang salah adalah apa yang ingin dirimu lakukan terhadap diriku. Bisa saja tangan diriku melayang di wajahmu , menggoreskan memar hingga sampai di lubuk hatimu. Tapi , akankah berhenti sampai disitu ..? Sedangkan diriku begitu yakin terhadap hati dan akal sehatku , diriku mampu lakukan dan hentikan semua itu dengan tepukan mesra dan elusan kasih sayang.

Namun sayang , dirimu justru memilih bersikap munafik , seakan ingin memutar balikkan fakta. Diriku tertegun sambil berkata lirih , “dirimu tahu makna membersihkan diri ..? Adalah karena serpihan debu harus senantiasa ditanggalkan , dan itu manusiawi .. namun apa yang menjadikan lebih buruk ..? Adalah pengingkaran akan sebuah fakta atau bersikap munafik ..”
Dirimu terdiam , seakan berfikir. Kemudian diriku melanjutkan ujaran ,” sekarang , kita buktikan siapa diantara diriku dan dirimu yang begitu rapuh , mengejar semu bayang cinta penuh nafsu angkara , dan siapa yang sekedar menghargai arti sebuah persahabatan hingga saatnya tiba ketika mahligai ‘peradaban’ dan norma agama memeluk perikatan cinta.

Sesaat kemudian , hanya dengan sentuhan halus , dirimu terkapar tak berdaya. Tak menyisakan sedikit jua kalimat pengingkaran. Dan diriku memaknai hanya dengan senyuman. Bukan senyum kemenangan , karena cinta bukan tentang menang atau kalah. Senyumku senyum kesedihan ketika dirimu menjadikan ketulusan sebuah cinta bagai seonggok sampah tak bermakna.

Ketika kumelangkah tinggalkan dirimu , masih kusunggingkan senyuman. Percayalah , semua ini bukan tentang kemenangan diriku atas dirimu. Tapi diriku atas nama kesucian cinta dan keagungan rasa rindu. Tak ada kekalahan dan kemenangan atas nama cinta. Yang ada adalah memenangkan diri sendiri.

Dirimupun jangan pernah merasa kalah karena ketidakberdayaanmu , tapi berbahagialah mengenal diriku yang mengagungkan kesakralan cinta disaat begitu mudahnya orang lain menginjak kesucian makna cinta. Dan .. apakah aku harus berbahagia pula , mengenal dirimu tanpa keangkaraan ..?

Saat ini .. diriku tengah melenggang dengan penuh keanggunan. Mengabaikan setiap ketidakjelasan dalam memaknai kehidupan. Kuhanya fokus terhadap kebahagiaan diriku dan semua yang mendukung kebahagiaanku. Dan disaat saat kesunyian hati , kemerindukan disaat saat kebersamaan bersamanya bermain ombak pantai berpelukan diantara deru jalanan. Sementara .. hanya itu .. hingga perjalanan hidup menentukan lain.

Dalam Kelangutan Hati di Gonjang Ganjing September’22 ..
Elfi Iftitah — pengajar MA Miftahul Ulum Pancoran Bondowoso

BACA JUGA :  Perkara Hakim Itong, Catut Nama Waka PN Surabaya hingga Kasus Hakim Lain

Tinggalkan Balasan