Berita  

MATI TANPA CINTA

Avatar of Jurnal Hukum Indonesia
MATI TANPA CINTA

Opini — Jurnal Hukum Indonesia.–

Kematian akal budi
Jika seseorang tidak lagi mau menggunakan akal sehat dalam beragama, maka terjadilah kematian akal budi.

Jika seseorang tidak lagi mau menggunakan nalar intelektual dan akal sebagai pemandu dan penentu kebenaran, maka terjadilah kematian akal budi.

Jika seseorang fanatik buta, fanatik dengan golongan dan mazhabnya dalam beragama yang mana taat patuh dalam menerima doktrin tanpa mau lagi berpikir benar atau salah, maka terjadilah kematian akal budi.
Jika seseorang merasa paling beragama tetapi malah dikuasai nafsu jahat yang melahirkan primordialisme sempit, sektarianisme, kebencian dan permusuhahan, maka terjadilah kematian akal budi.

Jika seseorang bukan lagi mencari kebenaran tetapi yang dicarinya pembenaran, maka terjadilah kematian akal budi.

Kematian hati nurani
Jika seseorang hati nuraninya telah terkunci mati, tidak lagi menjadi pembuka pintu kearifan, pemandu perilaku dan penyuluh kebenaran, maka terjadilah kematian hati nurani.

Jika seseorang telah kehilangan sifat kemanusiaan, maka terjadilah kematian hati nurani.

Jika seseorang merasa paling beragama tetapi sikapnya keras-kasar-menakutkan, intoleran, sangat benci dengan agama lain, melarang berdirinya tempat ibadah agama lain, sangat arogan dan egois, maka terjadilah kematian hati nurani.

BACA JUGA :  Tetap Jaga Momentum Ramadhan, Personel Bhabinkamtibmas Polsek Mancak Tetap Ingatkan Disiplin Prokes Kepada Masyarakat

Jika seseorang tidak ada lagi keadaban tetapi kebiadaban, maka terjadilah kematian hati nurani.

Jika seseorang sudah tidak ada lagi ukuran untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, maka terjadilah kematian hati nurani.

Jika seseorang sudah tidak memiliki lagi toleransi sosial dan toleransi beragama, maka terjadilah kematian hati nurani.
Jika seseorang menutup hatinya supaya cahaya terang tidak bisa masuk, maka terjadilah kematian hati nurani.

Jika hati, mata dan telinga, tidak berfungsi untuk mendengar, melihat dan memahami kebenaran, maka terjadilah kematian hati nurani.

BACA JUGA :  KPK dan DPD RI Sepakat Dorong Pemberantasan Korupsi di Daerah

Kematian akal budi dan kematian hati nurani adalah kematian kemanusiaan, yang mana akan membuat diri seseorang menjadi tuli, bisu dan buta. Kehilangan kemanusian akan membuat derajat seseorang lebih rendah dari binatang.

Kematian akal budi dan kematian hati nurani pada akhirnya terjadilah kematian cinta dan mati tanpa cinta adalah kematian terburuk dari segala kematian.

Kematian akal budi dan kematian hati nurani adalah kematian cinta dan mati tanpa cinta adalah kematian terburuk dari segala kematian dan jika seseorang telah mengenal dan menemukan cinta maka tak akan mati.

Matinya akal budi, matinya hati nurani adalah matinya cinta, matinya kemanusiaan.

Akal budi dan hati nurani yang terjaga dengan baik akan memancarkan cahaya.
Marilah kita terus hidupkan kecerdasan akal budi dan kejernihan hati.

Tinggalkan Balasan