Berita  

Pengamat Sepak Bola: Hasil Kerja TGIPF Kanjuruhan Tidak Soroti Pitch Invasion

Avatar of Jurnal Hukum Indonesia
Pengamat Sepak Bola: Hasil Kerja TGIPF Kanjuruhan Tidak Soroti Pitch Invasion

Malang – Jurnal Hukum Indonesia.-

Pengamat Sepak Bola, Rossi Rahardjo memberikan apresiasi kepada hasil kerja Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang memberikan sejumlah rekomendasi terkait Tragedi Kanjuruhan. Namun, dia menyayangkan, TGIPF tidak menyoroti kejadian pitch invasion (menyerbu ke lapangan) yang dilakukan suporter Arema sebagai awal mula terjadinya peristiwa di Stadion Kanjuruhan Malang itu.

Adapun Tragedi Kanjuruhan bermula dari masuknya segelintir suporter ke tengah lapangan untuk menemui para pemarin Arema FC, lantaran kecewa akibat kekalahan 2-3 dari Persebaya. Dalam istilah sepak bola, aksi itu disebut “pitch invasion.”

BACA JUGA :  Peringatan HPN 2022, Insan Pers Tagih Realisasi 20 Program Janji Politik Bupati dan Wabup Lumajang

“TGIPF sudah memberikan rekomendasi yang bagus. Tapi, awal mula terjadinya kejadian “pitch invasion,” Itu tidak disebutkan Pak Mahfud MD dan teman-teman. Lebih ke aparat kepolisian,” ungkap Rossi

Rekomendasi TGIPF terkait tuntutan Ketua Umum PSSI dan seluruh anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI untuk mundur dan segera mengadakan Kongres Luar Biasa (KLB), sudah tepat. Namun, sebetulnya ragu atas hasil KLB nanti. Rossi menduga, hasil KLB hanya akan memutuskan pergantian Ketua Umum PSSI saja. Padahal, penyakit sepak bola selama ini juga berasal dari para anggota Exco PSSI.

BACA JUGA :  Presiden Soal Usulan TNI/Polri Tugas di Kementerian: Belum Mendesak

“Hanya saja KLB yang ada sekarang ini hanya untuk menurunkan Ketua Umum PSSI. Dari sisi kami, penyakit sepak bola itu tidak hanya di ketuanya, tetapi jajaranya pengurusnya, dari Exco PSSI,” ujar Rossi.

Menurut Rossi “Bagaimana tidak, seorang Exco merangkap sebagai pemilik klub, pengelola klub. Kita bisa sebut saja dari Barito Putera itu Hasnuyardi. Lalu dari PSIS Semarang Yoyok Sukawi, dari Madura United Haruna Soemitro dan sebagainya,”.

“Bahkan Wakil Ketua PSSI Iwan Budianto pun adalah pemegang saham Arema sebesar 75 persen. Ini baru mencuat. Sebelumnya pemilik Arema dianggap Gilang. Engga juragan 99 itu hanya 16 persen saham. Tapi Iwan Budianto pemilik saham mayoritas,” lanjutnya.

BACA JUGA :  Kemenparekraf Ajak Pelaku Pariwisata Turut Aktif Tanggulangi Bencana

Berdasarkan analisa itu, langkah paling tepat untuk memperbaiki kualitas sepak bola Indonesia yakni memutus generasi. Semua pengurus PSSI saat ini harus diganti dengan sosok yang benar-benar memiliki kredibilitas dan integritas.

“Nah siapa orang-orang itu? Ayo kita cari bersama. Saya kira masih banyak orang-orang tulus memajukan Sepak Bola di Indonesia,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan