Berita  

Puri Baron: Eks Kantor Pertani

Puri Baron: Eks Kantor Pertani

Surakarta — Jurnal Hukum Indonesia.- Bangunan ini terletak di Jalan Bhayangkara Nomor 59, Sriwedari, Laweyan. Dahulu digunakan untuk kantor Pertani. Luasnya mencapai 5.566 meter persegi. Puri Baron dibangun pada tahun 1850. Bangunan bersejarah ini didirikan pada masa kolonial Belanda. Pemberian nama Baron diambil dari Mayor Baron Van Hougendoorf, yakni seorang petinggi Belanda yang ikut berpengaruh dalam pendirian Keraton Kasunanan Surakarta.

Arsitektur bangunan yang ada di dalamnya bergaya arsitektur Belanda dengan corak khas art-deco. Hal ini bisa dilihat dari bentuk jendela yang besar dan seragam. Bangunan ini juga dilengkapi dengan plafon dan atap yang tinggi, sehingga membuat suasana di dalam bangunan terasa sejuk. Selain itu, wajah bangunan banyak menggunakan garis horizontal dan melengkung ditambah dengan detail ornamen tradisional yang memiliki seni historikal.

BACA JUGA :  Di Ultah Humas Polri Ke 71 Kapolres Bangkalan Titip Pesan Kepada Insan Pers.

Tak hanya keindahan arsitekturnya, bangunan tersebut juga pernah menjadi lokasi diadakannya perundingan Cease Fire, yaitu perundingan gencatan senjata antara Belanda yang diwakili oleh Kolonel Van Ohl dan Letnan Kolonel (Letkol) Slamet Riyadi. Perundingan dilakukan pada saat pertempuran empat hari di Solo pasca agresi militer II Belanda.

Kemudian, di tahun 1978, Puri Baron beralihfungsi sebagai Gedung Pertani. Perseroan tersebut bergerak di bidang agribisnis yang memproduksi, mengadakan, serta memasarkan sarana produksi dan komoditas pertanian. Kantor ini dijadikan pusat pelayanan administrasi untuk PT. Pertani.

BACA JUGA :  Pertandingan Sengit Antara Jerman Vs Inggris, The Three Lions Hampir Digilas Tim Panser

Bangunan ini dapat masuk menjadi bangunan bersejarah yang ada di kota Solo. Namun, Puri Baron ini tidak dijadikan untuk tempat wisata, karena digunakan untuk tempat tinggal milik perorangan.

Tinggalkan Balasan