Berita  

Regulasi Penggunaan Gas Air Mata oleh Aparat Kepolisian

Avatar of Jurnal Hukum Indonesia
Regulasi Penggunaan Gas Air Mata oleh Aparat Kepolisian

Jurnal Hukum Indonesia.-

Pendahuluan :
Gas air mata  adalah jenis senjata kimia yang berupa gas dan digunakan untuk melumpuhkan dengan menyebabkan iritasi pada mata dan/atau sistem pernapasan. Gas air mata bisa disimpan dalam bentuk semprotan ataupun granat. Alat ini sangat lazim digunakan oleh aparat kepolisian didalam melakukan tindakan guna meredam terjadinya kerusuhan, baik yang diakibatkan oleh sekelompok orang atau banyak orang.
Adapun bahan kimia yang sering dipakai pada gas air mata antara lain gas CS
(2 klorobenzalmalononitril,C10H5ClN2), CN (kloroasetofenon,C8H7ClO),
CR (dibenzoksazepin, C13H9NO), dan semprotan merica (gas OC, oleoresin capsicum).
Paparan terhadap gas air mata menyebabkan dampak jangka pendek dan panjang, termasuk pengembangan penyakit pernapasan, luka dan penyakit mata parah (keratitis, glaukoma, dan katarak), radang kulit, kerusakan pada sistem peredaran darah dan pencernaan, bahkan kematian, khususnya pada kasus dengan paparan tinggi. Meski bernama gas, gas air mata biasanya terdiri dari campuran aerosol, seperti bromoaseton dan metilbenzil bromida. Gas air mata sendiri bekerja dengan membuat iritasi membran mukus pada mata, hidung, mulut, dan paru-paru. Ia menyebabkan tangis, bersin, batuk, kesulitan bernapas, nyeri di mata, dan buta sementara. Dengan gas CS, gejala iritasi biasa muncul setelah paparan selama 20 hingga 60 detik dan sembuh setelah 30 menit sejak meninggalkan tempat penyemprotan gas. Sebagai senjata tak mematikan atau kurang mematikan, ada risiko cedera serius permanen atau kematian ketika gas air mata dipakai. Ini termasuk risiko terpukul oleh wadah gas air mata yang dapat menyebabkan lecet, kehilangan penglihatan, atau patah tulang kepala (tengkorak) yang menyebabkan kematian. Kasus cedera pembuluh darah serius yang disebabkan oleh wadah gas air mata juga dilaporkan di Iran dengan cedera saraf (44%) dan amputasi (17%) serta juga cedera kepala pada anak-anak.
Meski dampak gas air mata itu sendiri biasanya hanya mengakibatkan peradangan pada terjadinya iritasi kulit ringan, komplikasi tertunda juga mungkin terjadi. Para pengidap penyakit pernapasan, seperti asma, berisiko tinggi. Mereka sangat mungkin butuh pertolongan medis dan terkadang butuh dibawa ke rumah sakit, bahkan harus memakai dukungan ventilasi. Paparan kulit terhadap gas CS dapat menyebabkan luka bakar kimia atau memicu alergi pada kulit. Ketika orang-orang terkena dalam jarak dekat atau terpapar parah, terjadinya  cedera mata seperti tercakarnya kornea mata sehingga dapat menyebabkan kehilangan ketajaman penglihatan yang permanen. Paparan tinggi atau frekuensi tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit sesak pernapasan.

Gas air mata yang terhirup oleh pernapasan akan memunculkan reaksi terbakar di seluruh pernapasan. Untuk itu, penggunaannya diatur dalam sebuah regulasi agar tidak menimbulkan korban. Penggunaan senjata kimia gas air mata yang dilepaskan oleh kepolisian pada pertandingan sepak bola yang mempertemukan klub Arema FC vs Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10) lalu menelan banyak korban jiwa. Penggunaan gas air mata dalam kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang telah melanggar aturan FIFA selaku federasi yang menaungi persepakbolaan dunia dalam penanganan kerusuhan saat pertandingan, terkait pengamanan dan keamanan stadion yang tidak memperbolehkan penggunaan gas air mata. Hal ini dikarenakan gas air mata berisi zat kimia yang mampu membuat mata mengalami iritasi dan sekaligus mempengaruhi sistem pernapasan. Penggunaan senjata kimia gas air mata diatur dalam FIFA Stadium Safety and Security Regulations Pasal 19 b tentang Pengamanan di Pinggir Lapangan.
Pasal tersebut menjelaskan bahwa, “No firearms or ‘crowd control gas’ shall be carried or used”. Dalam artian lain bahwa, senjata api atau ‘gas pengendali masa’ tidak boleh dibawa atau digunakan. Zat yang ada di dalam gas air mata dikemas dalam wujud semprotan dan granat. Benda yang biasa disebut lakrimator ini memiliki efek mengiritasi bagian lender mata, sehingga terdapat sensasi menyengat dan mengalirkan air mata.
Gas air mata juga disebut senjata kimia lantaran terdapat beberapa senyawa kimia yang menjadi bahan gas air mata. Di antara senyawa tersebut adalah bromoacetone, benzyl bromide, ethyl bromoacetate, xylyl bromide, dan α-bromobenzyl cyanide.
Dalam mempertimbangkan penggunaan kekuatannya, Kepolisian perlu memperhatikan hal sebagai berikut, yaitu legalitas, nesesitas, proporsionalitas, kewajiban umum, prevented, dan masuk akal. Penggunaan kekuatan Kepolisian diberikan karena dalam menjalankan tugas-tugas Kepolisian, memiliki keterbatasan. Namun disaat yang bersamaan masyarakat memerlukan jaminan terkait keamanan jiwa dan raga serta terhindar dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh siapapun. Sayangnya, penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian di mata masyarakat seringkali menimbulkan dampak yang bersifat merusak bagi masyarakat. Dampak tersebut mulai dari luka ringan, luka berat, kerusakan organ tubuh hingga kematian. Gas air mata disebut-sebut sebagai alasan utama banyaknya korban berjatuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, dalam laga Arema FC vs Persebaya Surabaya. Padahal, gas air mata sangat diharamkan di dunia sepakbola lantaran FIFA sudah melarang penggunaan benda tersebut. Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) punya aturan tentang penggunaan gas air mata dan senjata api saat pertandingan, pasalnya tensi emosi saat berlaga tak mampu dibaca, dan hal ini bisa memicu emosi aparat yang jaga. Penggunaan gas air mata yang dilakukan petugas keamanan jelas telah melanggar aturan FIFA.

BACA JUGA :  Jumlah Donasi Erupsi Semeru Capai 28 Milyar Rupiah

Pembahasan :
Dalam aturan FIFA soal pengamanan dan keamanan stadion alias FIFA Stadium Safety and Security Regulations, tertuang poin penggunaan gas air mata dilarang , tertulis bahwa gas air mata tidak boleh dipakai. “Senjata api atau gas pengendali massa (gas air mata) tidak diboleh dibawa atau digunakan,” bunyi pasal 19 b di aturan FIFA soal pengamanan dan keamanan stadion, Minggu (2/10/2022). Mengutip Daily Mail, para peneliti telah mengaitkan sains di balik perilaku-perilaku para suporter bola, salah satunya adalah menyanyi bersama. Department of Cognitive, Perceptual and Brain sciences di University College London, Daniel Richardson memberikan penjelasan ilmiahnya. Ia mengatakan nyanyian merupakan salah satu cara untuk mengubah identitas sosial mereka. “Ketika menonton di stadion sepak bola, kita bernyanyi atau berpakaian sama, kita akan memutar tombol pada bagian identitas diri sendiri yang terhubung dengan kelompok yang lebih besar,” ungkapnya kepada Naked Scientists. Ketika bernyanyi bersama, suasana hatimu membaik, dan detak jantungmu akan tersinkronasi di dalam kelompok, sehingga memperkuat ikatan dalam kelompok. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang suka memukul drum bersama-sama. “Bernyanyi dan memukul drum dengan berirama adalah tentang menciptakan ikatan dalam komunitas, apalagi jika dilakukan dengan sinkron,” ungkap antropolog Inggris di University of Oxford, Robin Dunbar. Kegiatan-kegiatan ini mampu “menendang” sistem endorfin di dalam otak, sehingga membuat kita merasakan efek bagaikan mengonsumsi morfin. Efeknya kamu akan merasa terikat kepada orang yang melakukan tindakan sama. Musik bisa menjadi social lubricant yang mencairkan suasana, termasuk di stadion Wembley yang berisikan 50 ribu penggemar. Selain bentuk pengekspresian diri bahagia, kesedihan juga menimpa mereka yang mendukung tim kalah. Meski begitu, ada juga sisi baiknya dari kekalahan ini. Menurut sebuah studi yang dipublikasikan oleh British Journal of Social Psychology, laki-laki lebih nyaman untuk mengekspresikan kesedihannya melalui olahraga. Kericuhan terjadi dalam laga Arema vs Persebaya yang berakhir dengan skor 2-3 untuk kekalahan tuan rumah di pekan ke-11 Liga 1 2022-2023, Sabtu 1 Oktober 2022 malam WIB. Semua berawal dari penonton Arema yang mencoba masuk ke lapangan karena kecewa timnya tumbang. Petugas keamanan berusaha untuk mengontrol situasi yang tidak kondusif itu. Gas air mata pun mereka lontarkan ke arah tribun penonton. Lalu, imbas dari lemparan gas air mata itu pun membuat para penonton di tribun menjadi panik karena membuat mata perih. Situasi pun semakin kacau dan tidak karuan karena mereka berusaha untuk mencari jalan untuk keluar dari dalam stadion, dengan cara berdesak-desakan.
Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, bermula saat sebagian suporter Aremania merangsek masuk ke area lapangan setelah Arema FC kalah. Pemain Persebaya langsung meninggalkan lapangan dan Stadion Kanjuruhan menggunakan empat mobil polisi Barracuda. Sementara beberapa pemain Arema FC yang masih di lapangan lantas diserbu pemain. Kerusuhan semakin membesar saat ada oknum melempar flare dan benda-benda lainnya. Petugas keamanan berusaha menghalau para suporter, kemudian menembakkan gas air mata di dalam lapangan. Tembakan gas air mata itu membuat banyak suporter pingsan dan sulit bernafas.

BACA JUGA :  Polisi Dalami Temuan Miras di Stadion Kanjuruhan Jatim

Banyaknya suporter yang pingsan, membuat kepanikan di area Stadion, yang membutuhkan bantuan medis tersebut tidak sebanding dengan jumlah tenaga medis yang disiagakan di Stadion Kanjuruhan. Sementara itu, berdasarkan data terakhir, menyebutkan bahwa korban meninggal dunia akibat tragedi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur sebanyak 134 orang (CNN Indonesia), sedangkan yang luka dilaporkan sebanyak 574 orang (CNN Indonesia, 081022.09.00)
Sebagai referensi aturan didalam penggunaan gas air mata oleh Aparat Kepolisian diatur dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara RI No. 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian. Pasal 5 ayat (1) dalam peraturan tersebut menjelaskan tahapan penggunaan kekuatan Kepolisian, yaitu sebagai berikut:
a. Tahap 1 : kekuatan yang memiliki dampak deterrent / pencegahan;
b. Tahap 2 : perintah lisan;
c. Tahap 3 : kendali tangan kosong lunak;
d. Tahap 4 : kendali tangan kosong keras;
e. Tahap 5 : kendali senjata tumpul, senjata kimia antara lain gas air mata, semprotan cabe atau alat lain sesuai standar Polri;dan
f. Tahap 6 : kendali dengan menggunakan senjata api atau alat lain yang menghentikan tindakan atau perilaku pelaku kejahatan atau tersangka yang dapat menyebabkan luka parah atau kematian anggota Polri atau anggota masyarakat. Kemudian dalam ayat (2) dalam pasal tersebut menjelaskan, anggota Polri harus memilih tahapan penggunaan kekuatan sesuai bahaya ancaman dari pelaku kejahatan atau tersangka. Di dalamnya memuat ketentuan “Anggota Polri harus memilih tahapan penggunaan kekuatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), sesuai tingkatan bahaya ancaman dari pelaku kejahatan atau tersangka dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3”.
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menggelar rapat koordinasi untuk membahas penanganan tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Senin (3/10) pukul 09.00 WIB. “Saya mengundang rapat koordinasi bersama Menko PMK, Menteri Kesehatan, Menpora, Mendagri, Menteri Sosial, Panglima TNI, Kapolri, KONI, PSSI di kantor Kemenko Polhukam untuk membicarakan hal-hal tersebut,” kata Mahfud dalam keterangan Minggu (2/10) malam. Presiden Joko Widodo, lanjut dia, meminta agar langkah-langkah secepatnya diambil untuk menangani tragedi Kanjuruhan yang terjadi usai pertandingan Arema FC vs Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10) malam. Di antaranya perbaikan dunia persepakbolaan ke depan dan meneliti jika ada tindakan hukum, pelanggaran hukum atau sabotase di dalam peristiwa itu untuk diteliti dan ditindak dengan tepat sesuai aturan hukum. “Siapa saja yang sengaja maupun siapa saja yang lalai di dalam terjadinya peristiwa ini,” ujarnya. Menurut Mahfud, Pemerintah bersungguh-sungguh untuk menindaklanjuti, merehabilitasi, dan menyelesaikan masalah yang timbul akibat tragedi Kanjuruhan dalam pertandingan sepak bola Liga 1 di Malang. Gas air mata disebut-sebut sebagai alasan utama banyaknya korban berjatuhan di Stadion Kanjuruhan, Malang, dalam laga Arema FC vs Persebaya Surabaya. Padahal, gas air mata sangat diharamkan didalam dunia sepakbola, lantaran FIFA sudah melarang penggunaan gas airmata tersebut.

Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) punya aturan tentang penggunaan gas air mata dan senjata api saat pertandingan, pasalnya tensi emosi saat berlaga tak mampu dibaca, dan hal ini bisa memicu emosi aparat yang jaga, sehingga penggunaan gas air mata yang dilakukan Aparat Kepolisian jelas telah melanggar aturan FIFA. Dalam aturan FIFA soal pengamanan dan keamanan stadion atau “FIFA Stadium Safety and Security Regulations”, tertuang poin penggunaan gas air mata dilarang dan disitu tertulis bahwa gas air mata tidak boleh dipakai, senjata api atau gas pengendali massa (gas air mata) tidak diboleh dibawa atau digunakan,” bunyi pasal 19 b di aturan FIFA.
Dalam sebuah penelitian yang dari Universitas Toronto berjudul “The Problematic Legality of Tear Gas Under International Human Rights Law”, peneliti menyebut salah satu alasan kenapa senjata ini (gas airmata, red) perlu dilarang adalah efek kesehatan yang mungkin terjadi pada mereka yang terpapar. “Studi menunjukkan bahwa paparan jangka panjang dalam bentuk yang kita lihat dengan pengaturan protkes membuat mereka yang terkena dampak (gas air mata) berisiko lebih tinggi untuk sejumlah penyakit, termasuk tertular penyakit pernapasan seperti COVID-19,” ujar Vincent Wong dari Research Associate di International Human Rights Law (IHRP) Universitas Toronto, Kanada dan rekan penulis penelitian William C. Selain efek kesehatan, gas air mata juga memberikan efek yang luas, sehingga memungkinkan dampak gas tak hanya pada perusuh, tetapi juga mereka yang ada di sekitarnya. Dilansir dari Eurekalert, gas air mata tidak bisa membedakan antara yang muda dan yang tua, yang sehat dan yang sakit, serta yang damai dan yang rusuh. Lebih lanjut pada tragedi Kanjuruhan gas air mata ini menyebabkan penonton pertandingan berhamburan kabur untuk menghindari gas air mata, menyebabkan mereka berdesakan, berhimpitan, bahkan ada yang jatuh dan sampai terinjak-injak oleh penonton lainnya yang sama-sama berusaha untuk keluar.
Sebagai referensi bahwa sampai saat ini belum ada penawar khusus untuk gas air mata secara umum. Namun yang utama adalah pergi dari daerah terpapar gas ke tempat berudara segar merupakan pertolongan pertama serta melepas pakaian yang terpapar dan menghindari pemakaian handuk bersama sehingga dapat mengurangi reaksi kulit. Adapun melepas lensa kontak juga disarankan karena ia dapat ditempeli partikel zat kimia daripada gas airmata tersebut. Ketika seseorang telah terpapar, ada beragam cara untuk menghilangkan zat kimia sebanyak mungkin dan meredakan gejala. Pertolongan pertama untuk rasa terbakar pada mata adalah irigasi (menyemprot atau membilas) dengan air untuk membuang zat kimianya. Meski ada laporan bahwa air dapat menambah nyeri dari gas CS, namun bukti-bukti tersebut masih lemah sehingga air atau larutan garam adalah pilihan yang baik. Mandi dan menggosok seluruh tubuh dengan sabun dan air dapat menghilangkan partikel yang melekat pada kulit.

BACA JUGA :  Presiden Minta Siapkan Mudik dengan Matang

Penutup :
A. Kesimpulan :

Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan diatas maka pertanggungjawaban didalam penggunaan gas air mata oleh Aparat Kepolisian didalam menjalankan tugas kepolisian harus melalui Sidang Komisi Kode Etik Polri apabila penyalahgunaan terjadi didalam ranah administrasi, dan aparat kepolisian yang bersangkutan dapat diproses juga melalui Peradilan Pidana apabila didalam penyalahgunaan gas airmata tersebut mengakibatkan terjadinya luka-luka atau sampai dengan hilangnya nyawa seseorang maka aparat kepolisian yang bersangkutan dapat diproses secara pidanaserta dapat dijatuhi sanksi pidana pokok dan pidana tambahan sebagaimana diuraikan didalam Pasal 10 KUHP.

B. Saran :
Aparat Kepolisian dituntut untuk lebih profesional didalam memakai atau menggunakan gas air mata maupun senjata api didalam melakukan tindakan diskresinya dan memberikan pelatihan secara bertahap untuk menambah kemampuan masing-masing anggota polisi agar dalam menggunakan gas air mata maupun senjata api sesuai dengan sasaran yang utamanya yakni membubarkan aksi anarkhis supporter,demontrans dan bukan melukai atau mematikan kecuali dilumpuhkan bila pelaku melakukan perlawanan.
Perlunya pengawasan yang ketat dari Pimpinan atau Atasan terhadap penggunaan gas air maupun senjata api oleh masing masing anggota polisi karena sifat penggunaan senjata api maupun gas air mata berupa diskresi, karena tanpa adanya pengawasan yang ketat maka sangat sulit bagi pihak yang merasa dirugikan untuk meminta pertanggungjawaban kepada aparat kepolisian tersebut karena penggunaan gas airmata maupun senjata api ini tidak selalu menunggu instruksi dari Atasan tetapi bisa dengan penilaian sendiri (subjektif).
Harus ada tindakan tegas dari Pimpinan Kepolisian untuk memberikan sanksi terhadap pelanggaran-pelanggaran dan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh bawahannya pada saat menjalankan tugas Kepolisian, agar dapat terciptanya faktor trust atau kepercayaan dari masyarakat kepada anggota Kepolisian didalam menjalankan tugasnya.

Tinggalkan Balasan