Berita  

Siklus Pelana Kuda DBD

Avatar of Jurnal Hukum Indonesia
Siklus Pelana Kuda DBD

Surabaya — Jurnal Hukum Indonesia.- Peralihan musim hujan adalah periode terjadinya kenaikan kasus Demam Berdarah Dengue atau DBD di Indonesia. Dengan adanya hal tersebut, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk mewaspadai siklus pelana kuda pada penderita DBD. Lalu apakah yang dimaksud dengan siklus pelana kuda pada penderita DBD? Simak penjelasannya pada artikel dibawah ini!

Siklus pelana kuda merupakan sebutan bagi tiga fase demam yang bergerak naik turun pada pasien dengue. Siklus ini terbagi menjadi tiga fase, yaitu fase demam tinggi 40 derajat celcius, fase kritis 30 derajat celcius, dan fase penyembuhan.

BACA JUGA :  Apakah Pelaku Bisa Menuntut Korban yang Melakukan Pembelaan Diri Diluar Batas?

Yang pertama fase demam tinggi. Fase ini terjadi pada hari pertama dan ketiga setelah masa inkubasi virus yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti. Pada fase ini penderita akan mengalami demam tinggi kisaran 39-41 derajat celcius. Demam yang tinggi ini biasanya tidak dapat diredakan dengan obat penurun panas biasa.

Yang kedua fase kritis. Fase ini terjadi pada hari keempat hingga kelima setelah masa inkubasi virus. Pada fase ini ditandai dengan penurunan demam secara drastis hingga mencapai 30 derajat celcius seolah-olah pasien telah sembuh. Pada fase ini perlu diwaspadai, karena fase ini memasuki masa dimana resiko tertinggi dari DBD dapat terjadi. Pada fase kedua ini muncuk bintik merah atau ruam pada kulit, selain itu pada fase ini juga bisa terjadi komplikasi berupa kelainan metabolik. Pada fase ini perlu adanya perawatan khusus di rumah sakit.

BACA JUGA :  Presiden Ajak Masyarakat Syukuri Situasi Bangsa Indonesia di Tengah Krisis Global

Yang terakhir fase penyembuhan. Fase penyembuhan terjadi pada hari keenam hingga ketujuh, yang ditandai dengan demam tinggi yang kembali muncul sebagai reaksi dari kesembuhan. Pada fase ini denyut nadi akan kembali menguat, perdarahan berhenti, dan terjadi perbaikan fungsi tubuh lainnya. Pada fase ini bintik atau ruam merah pada kulit pun juga mulai berkurang.

Dengan hal ini maka masyarakat dihimbau agar selalu waspada jika terjadi demam yang tidak kunjung turun dalam dua hingga tiga hari dan disertai bintik merah. Selain itu rutin untuk melakukan pencegahan untuk mengurangi terkena penyakit DBD di lingkungan kita.

BACA JUGA :  Rincian Pelanggaran dan Denda Tilang Elektronik

Cara terbaik untuk pencegahan dalam mengatasi DBD adalah dengan menghindar dari gigitan nyamuk penyebab demam berdarah. Cara ini bisa dilakukan dengan tetap menjaga kebersihan lingkungan dengan menerapkan pembersihan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus setiap seminggu sekali dan juga melakukan gerakan 1 rumah 1 jumantik (G1R1J).

Tinggalkan Balasan