TINJAUAN YURIDIS TINDAK PIDANA PENGATURAN SKOR (MATCH FIXING)DALAM PERTANDINGAN SEPAKBOLADI INDONESIA

TINJAUAN YURIDIS TINDAK PIDANA PENGATURAN SKOR (MATCH FIXING)DALAM PERTANDINGAN SEPAKBOLADI INDONESIA

PENDAHULUAN

Jurnal Hukum Indonesia.- Fenomena yang terjadi saat ini di Indonesia adanya pengaturan skor didalam pertandingan sepakbola, sehingga akan merusak nilai-nilai sportivitas didalam dunia olahraga khususnya sepakbola. Sepakbola sendiri merupakan salah satu olahraga yang sangat populer di Indonesia. Namun didalam pertandingan yang tengah dilakukan telah terjadi perbuatan curang yaitu pengaturan skor dan ini dinilai sudah lama terjadi di sepakbola Indonesia. Pengaturan skor bukan hanya merupakan pengkhianatan terhadap sportivitas pertandingan namun merusak marwah daripada sepakbola.

Adapun metode penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum deskriptif yang bersifat pemaparan atas berbagai macam perbuatan yang mengandung unsur tindak pidana di dalam dunia sepak bola. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa harus ada penegakan hukum terhadap pemain sepakbola, wasit serta perangkat pertandingan lainnya, adapun peran Kepolisian serta masyarakat sangat dibutuhkan guna melihat sepakbola itu tidak hanya pertandingan akan tetapi sepakbola itu sendiri ada hukum yang mengatur secara rinci sesuai undang undang di Indonesia dan kode disiplin PSSI.

Sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga yang sangat populer. Hampir disetiap Negara bahwa sepakbola merupakan cabang olahraga yang paling diminati dan disukai oleh semua komponen masyarakat. Bahkan sepakbola menjadi salah satu cara bagi negara untuk menjadi eksistensinya diperhatikan oleh dunia yang lainnya, sehingga tidak jarang setiap negara berlomba-lomba saling memajukan dan menjadikan sepakbola sebagai primadona olahraga yang sangat populer dan mendapatkan perhatian yang antusiasme dari masyarakat. FIFA (Federation International De Football Association) yang bermarkas di Zurich, Swiss didalam menjalankan tugasnya mempunyai aturan tersendiri yang melingkupi kondisi yang terjadi didalam dunia sepakbola seperti mekanisme pertandingan, pengaturan kompetisi klub sepakbola, maupun isu-isu tentang sepakbola serta penyelesaian sengketa antara klub dengan klub, pemain dengan klub maupun masalah lainnya yang menghambat perkembangan olahraga sepakbola khususnya di tanah air. Dan ini semua dilakukan karena semata-mata hanya menginginkan adanya atau terciptanya sepakbola yang adil dan bermartabat (Fair Play).

BACA JUGA :  Bupati Sampang Terima Kunjungan Menkopolhukam Mahfud MD, Gelar Silaturahmi Bersama Ulama' Se-Madura

Di Indonesia, sama halnya dengan sebahagian negara-negara pada umumnya yang menjadikan industri sepakbola sebagai cabang olahraga yang sangat populer dan mendapatkan antusiasme dari masyarakat. Selain sebagai sarana hiburan, maka sepakbola juga berkembang sebagai sarana industri dan sarana penyiaran. Sehingga keberadaannya mulai bersinggungan dengan norma atau hukum positif yang ada. Namun dibalik hiruk pikuknya olahraga sepakbola maka jarang sekali kita melihat adanya kajian-kajian tentang hukum olahraga. Bisa jadi bahwa hukum olahraga belum seberapa populer dan familiar di Indonesia, padahal kajian tentang hukum olahraga ini sangat populer dan menjadi kajian yang menarik di banyak negara-negara maju di dunia.

Sejak jaman dahulu hingga saat ini sejarah tentang sepakbola di dunia ini hampir dikatakan tidak pernah mengalami fase kemunduran meskipun terkadang ada dinamika yang mengiringi perjalanannya, tak terkecuali masalah pengaturan skor (match fixing). Pengaturan skor yang semakin lama semakin naik ke permukaan menjadikan sebuah rumor yang patut untuk ditindaklanjuti secara serius oleh stake holder (pemangku kepentingan) yang ada, karena suara yang semakin nyaring membicarakan hal tersebut.

Terkait dengan (match fixing) di Indonesia, tentunya hal ini bukan barang baru dalam dunia olahraga kita, kehadirannya nyata dan dapat dirasakan namun pembuktiannya begitu sulit. Dalam hubungan ini, motif utama terkait pengaturan skor adalah uang, dalam hal ini masuk dalam cabang olahraga sebagai sarana bisnis.

Sindikat judi bermodal besar berani membuat skenario berkaitan dengan suatu hasil pertandingan karena mereka memiliki banyak uang untuk memainkan usahanya. Namun harus dipahami bahwa selama tidak memenuhi unsur-unsur tertentu yang diatur secara pidana maka kegiatan pengaturan skor didalam olahraga sepakbola tidak dapat dimasukkan kedalam kategori kejahatan/kriminal namun tetap saja hal ini mencederai sportivitas olahraga (fairplay), karena ada juga pengaturan skor yang motifnya bukan uang tetapi murni strategi untuk memilih lawan dan sebagainya. Sedangkan urusan sanksi hanya berada di tangan Komisi Disiplin (Komdis), Komisi Banding (Komding) dan Komisi Etik Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia.

BACA JUGA :  Rangkaian Hari Jadi Bangkalan, Bupati Ziarah ke Makam Agung Arosbaya

Dalam perkembangannya untuk pengaturan skor (match fixing) tidak hanya melanggar aturan yang ada pada federasi sepakbola yang ada, namun didalam fenomena pengaturan skor ini terdapat adanya delik atau tindak pidana suap yang dilakukan oleh oknum yang terindikasi terlibat didalam mafia bola, guna mensukseskan perbuatan/tindakan pengaturan skor (match fixing) yang sedang dilakukan.

Adanya pelanggaran yang masuk didalam ranah hukum positif yaitu tindak pidana suap yang dilakukan oleh mereka pelaku pengaturan skor, tentunya menjadi kewajiban aparat penegak hukum negara (dhi. Kepolisian RI) untuk melaksanakan tugasnya didalam hal penegakan hukum di Indonesia, karena dalam hal ini hukum pidana merupakan domain negara (yurisdiksi negara) untuk melakukan penegakan hukum. Namun apabila kita melihat melihat dari segi kerugian yang timbul akibat adanya fenomena (pengaturan skor/match fixing) didalam pertandingan sepakbola, tidak hanya pelaku yang bersinggungan langsung namun pemain, pemilik klub, ataupun pihak swasta yang membiayai adanya suatu pertandingan. Namun masyarakat umum dalam hal ini baik pendukung/suporter klub maupun masyarakat luas yang ingin menyaksikan adanya pertandingan yang sportif tanpa adanya rekayasa yang dilakukan oleh oknum pengatur skor, maka juga dirugikan dengan adanya fenomena pengaturan skor (match fixing). Perbuatan pengaturan skor (match fixing) biasanya dilakukan oleh bandar judi yang bekerjasama dengan pemain, pemilik klub maupun sampai pada level oknum pengurus induk sepakbola di Indonesia, guna meluluskan bisnis perjudiannya..

Dalam hal memanfaatkan sepakbola menjadi sebuah industri untuk mendapatkan keuntungan internasional, maka didalam prakteknya, penegakan hukum terhadap pelaku pengaturan skor (match fixing) kurang memenuhi rasa keadilan serta kepastian hukum bagi masyarakat, karena selama ini pelaku pengaturan skor (aparat PSSI, pemain atau pemilik klub) hanya diberikan sanksi berupa hukuman administratif, yaitu dengan menggunakan aturan-aturan berupa hukum disiplin yang berlaku di lingkungan organisasinya (PSSI) ataupun aturan-aturan lain yang ada dan diterapkan didalam dunia persepakbolaan.

BACA JUGA :  Ratusan Mahasiswa Unej Bakal Magang di Kantor Pemkab Jember

Padahal sudah jelas bahwa didalam pengaturan skor (match fixing) merupakan tindak pidana suap dan merupakan yurisdiksi negara dalam hal ini Kepolisian RI untuk menegakkan hukum, namun faktanya aparat Kepolisian RI belum maksimal untuk melaksanakan tugasnya, hal ini dikarenakan adanya kendala berupa aturan yang mengatur fenomena tersebut.

Demikian juga yang terjadi di lingkungan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), dimana dalam hal ini induk dari cabang olahraga sepakbola yang ada di Indonesia telah melarang sekaligus menolak adanya campur tangan negara karena PSSI lebih banyak bersandar dan berlindung kepada Statuta FIFA sebagai induk persepakbolaan di Dunia. Seiring dengan meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap cabang olahraga sepakbola, sehingga mengakibatkan munculnya pihak-pihak yang memanfaatkan sepakbola sebagai industri untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan mengesampingkan nilai sportivitas dan profesionalitas.

PENUTUP
Sepakbola sebagai sarana olahraga dan juga sebagai industri hiburan di Indonesia seharusnya menjadi lokomotif keteladanan bagi seluruh insan olahraga (sepakbola), bukan malah menjadikan sebagai pioner ketidak disiplinan didalam berolahraga. Terlepas dari sejarah sepakbola yang begitu kompleks. Olahraga paling digemari di dunia ini memiliki tautan yang cukup erat dengan pembangunan suatu wilayah. Seiring perkembangannya, sepakbola tidak lagi sekadar adu taktik permainan antara dua kesebelasan di lapangan hijau selama 90 menit. Sepakbola telah mewujud sebagai sebuah komoditas dalam konstelasi perekonomian global. Selayaknya komoditas yang lain, sepakbola dikelola sedemikian rupa dalam sistem yang dapat disebut sebagai industri sepakbola.

Maka seyogyanya para pelaku olahraga lebih mengedepankan serta menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dan sikap profesionalisme demi terciptanya prestasi yang membanggakan bagi Bangsa dan Negara.

Tinggalkan Balasan